Bijak Berteknologi dengan Akhlak: MTsN 4 Kota Tasikmalaya Tanamkan Nilai Isra Mi’raj Dalam Era Digital


 

Tamansari (Humas Kota Tasikmalaya)

Keluarga besar MTsN 4 Kota Tasikmalaya memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H dengan suasana khidmat pada Rabu (14/1/26). Kegiatan ini dirancang sebagai benteng spiritual bagi siswa di tengah hantaman arus teknologi yang semakin kencang, sesuai dengan tema yang diusung: “Membangun Generasi yang Berkualitas, Berakhlak, Beriman, dan Bertakwa di Era Digitalisasi.”

Madrasah menghadirkan Ustadz H. Almisbah Patul Majid, S.Pd.I. untuk memberikan siraman rohani kepada seluruh peserta didik. Dalam tausiyahnya, Almisbah menekankan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar perjalanan sejarah, melainkan simbol perintah untuk menjaga hubungan dengan Sang Pencipta melalui salat.

“kita jangan terlena oleh layar gawai (smartphone) hingga melupakan kewajiban agama, serta harus bijak memfilter informasi di dunia maya agar tetap selaras dengan nilai-nilai keislaman,” ungkapnya.

Kepala MTsN 4 Kota Tasikmalaya, H. Dedi Supriadi, S.Pd, M.Pd., menyampaikan apresiasi tinggi atas suksesnya acara ini. Dia memandang momentum Isra’ Mi’raj sebagai waktu yang tepat untuk mengevaluasi kualitas moral dan spiritualitas siswa. Dedi berharap peringatan ini mampu mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki ketangguhan iman yang kokoh.

Dalam komentarnya, H. Dedi Supriadi secara khusus mengaitkan semangat Isra’ Mi’raj ini dengan implementasi Kurikulum Cinta yang sedang digelorakan. Kurikulum ini menitikberatkan pada pendidikan yang berbasis kasih sayang, kepedulian, dan kelembutan hati dalam proses belajar mengajar.

"Peringatan Isra’ Mi’raj ini adalah implementasi nyata dari Kurikulum Cinta. Kita ingin menanamkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW yang kemudian mewujud pada cinta kepada sesama dan lingkungan. Melalui pendekatan hati, kita arahkan anak-anak agar menggunakan teknologi digital dengan landasan cinta kepada kebaikan, bukan untuk hal-hal negatif. Jika anak sudah memiliki 'cinta' yang benar kepada agamanya, maka dia akan secara otomatis menjadi generasi berkualitas yang berakhlak mulia," tutur Dedi.

Dedi juga menambahkan bahwa Kurikulum Cinta menuntut tenaga pendidik untuk menjadi teladan (uswah) dalam membimbing siswa menghadapi tantangan digital. Dia ingin madrasah menjadi rumah yang nyaman bagi siswa untuk tumbuh menjadi pribadi yang bertakwa tanpa kehilangan relevansi dengan kemajuan zaman.

Acara yang berlangsung di lingkungan madrasah ini diikuti oleh seluruh siswa, guru, dan staf tata usaha dengan penuh perhatian. Melalui kegiatan ini, MTsN 4 Kota Tasikmalaya berkomitmen untuk terus konsisten dalam membina karakter peserta didik agar tetap teguh memegang tuntunan Islam meski berada di era transformasi digital yang serba cepat.

Kontributor : Yeni / henhen