Cibeureum (HUMAS Kota Tasikmalaya)
Puluhan anggota Palang Merah Remaja (PMR) MAN 2 Kota Tasikmalaya resmi mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) yang diselenggarakan oleh Forum Remaja Palang Merah Indonesia (FORPIS). Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 17-18 Januari 2026 ini, dipusatkan di kampus MAN 1 Kota Tasikmalaya sebagai ajang penggemblengan kader kemanusiaan masa depan.
Diklatsar ini menjadi ruang bagi para peserta untuk mendalami prinsip dasar gerakan palang merah dan bulan sabit merah internasional. Selama kegiatan, anggota PMR MAN 2 Kota Tasikmalaya bergabung dengan peserta dari berbagai sekolah lain untuk mendapatkan materi teknis, mulai dari prosedur pertolongan pertama (PP), perawatan keluarga, hingga simulasi keterampilan evakuasi dalam situasi darurat.
FORPIS, sebagai penyelenggara, mengemas pelatihan ini untuk meningkatkan kesadaran remaja terhadap isu kesehatan dan aksi sosial. Dengan kurikulum yang terstruktur, para peserta dituntut tidak hanya paham secara teori, tetapi juga tangkas dalam praktik lapangan, sehingga mereka siap menjadi garda terdepan saat terjadi situasi darurat di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Keikutsertaan MAN 2 Kota Tasikmalaya dalam agenda ini merupakan bagian dari upaya madrasah untuk memperluas cakrawala siswa di luar kegiatan belajar mengajar di kelas. Melalui Diklatsar, para siswa belajar tentang kepemimpinan, kerja sama tim, dan ketahanan mental yang menjadi modal penting dalam membentuk karakter remaja yang responsif dan solutif.
Kepala MAN 2 Kota Tasikmalaya, H. Eka Mulyana, memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat para siswa yang mengikuti pelatihan ini. Eka menegaskan bahwa madrasah berkomitmen penuh untuk mendukung setiap kegiatan yang mampu menyeimbangkan kualitas intelektual dan keterampilan praktis siswa.
"Kegiatan seperti Diklatsar PMR ini adalah sarana yang sangat tepat untuk menggali potensi siswa secara menyeluruh. Kita tidak hanya fokus pada prestasi akademik di dalam kelas, tetapi juga mendorong penggalian potensi non-akademik melalui organisasi kemanusiaan. Keduanya harus berjalan beriringan agar siswa memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kepekaan sosial yang tinggi," ujar Eka.
Eka juga menambahkan bahwa pengalaman yang didapat dari FORPIS ini akan menjadi nilai tambah bagi rekam jejak siswa. Menurutnya, kemampuan non-akademik seperti keahlian medis dasar dan manajemen organisasi seringkali menjadi faktor pembeda yang membantu siswa dalam meraih kesuksesan di jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun di dunia kerja nantinya.
Diharapkan, sekembalinya dari pelatihan ini, para anggota PMR MAN 2 Kota Tasikmalaya dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat untuk memberikan layanan kesehatan bagi warga madrasah. Peningkatan kapasitas ini diharapkan menjadikan PMR MAN 2 sebagai unit kegiatan siswa yang lebih profesional, akuntabel, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.
Dengan berakhirnya Diklatsar ini, MAN 2 Kota Tasikmalaya kembali membuktikan konsistensinya dalam mencetak generasi yang unggul dalam prestasi dan kuat dalam aksi kemanusiaan, selaras dengan semangat madrasah yang adaptif terhadap tantangan zaman.
Kontributor : Adib / Yeni





